Penjeiasan Mahalul Qiyam

Keterangan tentang berdiri saat dibacakan kisah kelahiran Nabi Muhammad SAW (maulid):

Tradisi berdiri saat pembacaan maulid, khususnya ketika sampai pada bagian kelahiran Nabi Muhammad SAW, dikenal dalam banyak masyarakat Muslim, khususnya di wilayah Nusantara, seperti Indonesia, Malaysia, dan sebagian dunia Arab. Berikut adalah penjelasannya:

📜 Asal-usul Tradisi Berdiri Saat Maulid

* Tradisi ini dikenal dengan istilah "qiyam".

* Qiyam dilakukan sebagai ungkapan penghormatan, cinta, dan pengagungan terhadap Nabi Muhammad SAW.

* Biasanya dilakukan ketika bagian maulid menyebutkan saat Nabi Muhammad SAW lahir ke dunia.

💬 Pandangan Ulama tentang Qiyam Maulid

1. Ulama yang Mendukung:

 * Banyak ulama dari kalangan Ahlussunnah wal Jamaah terutama dari mazhab Syafi’i, mendukung qiyam.

   * Dianggap sebagai bentuk a’zhim (penghormatan) terhadap Rasulullah SAW.

   * Di antaranya: Imam Jalaluddin As-Suyuthi, Imam Ibn Hajar al-Haitami, dan lainnya.

   * Mereka menilai ini bukan bid'ah tercela, karena diniatkan sebagai penghormatan.

2. Ulama yang Tidak Menganjurkan:

   * Sebagian ulama tidak menganjurkan karena tidak ada dalil khusus dari Nabi SAW maupun para sahabat yang menunjukkan praktik ini.

   * Mereka khawatir jika dipahami sebagai kewajiban atau bagian syariat.

🕊️ Inti dari Qiyam:

* Bukan sekadar berdiri, tetapi ekspresi cinta kepada Nabi SAW.

* Tidak ada keharusan untuk berdiri. Yang penting adalah niat, rasa cinta, dan penghormatan kepada Rasulullah SAW

📌 Kesimpulan:

* Berdiri saat dibacakan kelahiran Nabi Muhammad SAW adalah tradisi (bukan kewajiban) dalam peringatan Maulid.

* Diperbolehkan oleh mayoritas ulama jika dilakukan dengan niat ta'zhim dan cinta kepada Nabi.

* Hendaknya dilakukan anpa menganggapnya sebagai syariat atau keharusan agama.